Presiden, Lelucon Angka
Presiden
Jika alam pikiran kita menerawangi kata Presiden maka yang terbersit dalam ingatan atau memori kita adalah orang tersukses di Republik ini. Sukses bukan dalam arti berduit ataupun memiliki banyak permaisuri, melainkan sukses dalam hal kedudukannya sebagai orang nomor satu di Republik ini. Nomor satu dalam hal tahta, bukan nomor satu dalam hal kemapanan pengetahuan atau nomor satu dalam hal kedalaman pikiran maupun nomor satu dalam hal kemampuan untuk mencerdaskan anak bangsa. Memang, untuk menjadi nomor satu tidak harus kita turut merasakan seperti apa nomor dua, tiga, empat dan seterusnya. Jika tujuan kita adalah nomor satu maka tidak harus kita melewati nomor dua. Karena nomor dua tidak akan kita capai tanpa ada nomor satu. Apabila orang nomor satu di Republik ini adalah Presiden, maka orang nomor dua adalah wakil Presiden. Nomor tiga Ketua MPR, dan seterusnya. Artinya bahwa untuk menjadi Presiden seseorang tidak harus belajar menjadi wakil, Ketua MPR dan lain sebagainya. Beda rasanya jika kita menaiki gedung bertingkat, untuk mencapai lantai 10 maka kita harus melalui lantai 1,2,3 dan seterusnya.
Konsep gedung bertingkat berbeda dengan konsep hierarki kenegaraan atau urutan-urutan prestasi dan lain sebagainya. Bagaimana mungkin orang nomor satu bisa menjelaskan seperti apa nomor dua sedangkan ia pun belum pernah merasakan menjadi orang nomor dua. Kita tentunya mampu menjelaskan kondisi lantai satu jika telah berada di lantai dua. Namun kita tidak akan bisa mendeskripsikan seperti apa lantai dua apabila kita hanya berada di lantai satu.
Pemahaman teritorial kenegaraan menjadi hal substansial yang perlu dikuasai oleh seorang Presiden. Saya tidak harus menjelaskan kriteria pemahaman apa yang perlu dikuasai oleh Presiden karena saya belum pernah menjadi Presiden. Namun Untuk berilmu maka seseorang wajib mengetahui apa yang ia pelajari, tidak sebatas tahu namun mampu mempertanggungjawabkan temuan-temuan yang ia ketahui. Jika ditelaah secara ilmiah, maka seseorang yang telah berada di lantai 10, ia seyogianya telah mampu mempertanggungjawabkan temuan-temuan yang ia ketahui di lantai 9,8,7 dan seterusnya. Rentetan matematis berbeda skenarionya, bagaimana mungkin seseorang mampu mencapai nomor dua jika tidak mampu melewati nomor satu. Lucu rasanya jika kita kaitkan dengan hirarki kenegaraan. Wakil presiden adalah buah kerja keras ketika menjadi presiden. Jika Presiden adalah lantai satu sebuah bangunan maka wakilnya adalah lantai dua bangunan yang serupa. Oleh karenanya untuk menjadi wakil presiden sebagai lantai dua sebuah bangunan maka seseorang wajib melalui lantai satu yaitu Presiden. Lucu dan Anarkis bukan!.
Kedudukan Presiden sebagai orang nomor satu secara ilmiah maupun matematis akan berasosiasi manakala kepentingan akal budi menjadi kuasa atas kepentingan politik praktis. Kepentingan akal yang didahulukan ketimbang kepentingan syahwat golongan. Dengan kemapanan akal yang memadai maka orang nomor satu akan mampu menerawangi dan meneropongi secara objektif seperti apa kondisi orang nomor dua. Presiden tentu mampu menempatkan diri di nomor berapapun ketika ia memiliki jangkauan akal yang memadai. Meski ia di lantai satu sekalipun ia mampu menerawangi kondisi objektif yang ada di lantai dua. Karena lantai satu tak berbeda secara eksplisit dengan lantai dua, sebab berdiri dengan material yang sama. Orang nomor satu dengan nomor dua tetap berada pada satu poros yang sama karena sama-sama dimanusikan oleh akal budi. Hanya saja melalui proses pemanusiaan yang bervariasi.
Salam Akal Sehat
Sekian.

Komentar
Posting Komentar