Pemimpin dan Pencitraan
Di era modernisasi yang semakin menggeliat dari waktu ke waktu menyebabkan segala dimensi kehidupan manusia kian tak mampu diredam oleh pola kebiasaan konvensional. Segala aspek kehidupan manusia selalu ada kaitannya dengan pola perkembangan zaman. Manusia tak lagi mengusai zaman, tapi zaman yg malah balik menguasai setiap denyut nadi manusia. Segala kompleksitas kehidupan manusia tak ubahnya seperti ilmu resultan yang sering menjadi bahan kajian para fisikawan. Akan seperti apa gaya atau vektor tentu tak terlepas dari resultannya. Orang bisa menilai bagaimana objektifitas gaya atau vektor apabila mempelajari seperti apa resultannya. Hal yang sama berlaku pada dinamika kontekstual saat ini. Setiap individu dituntut untuk menyesuaikan kondisi terkini yang serba modern ini. Seperti apa tingkah pola manusia pada umumnya tak terlepas pada penyesuain zaman. Artinya adalah manusia akan tertinggal apabila tak berpatokan pada zaman.
Seiring sejalan dengan kehidupan demokrasi di negara yang kita cintai ini. Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi maka hak konstitusional sepenuhnya berada di tangan rakyat. Rakyat boleh berada pada kedudukan bawah, bahkan serendah apapun kedudukan rakyat, ia tetap menjadi raja bagi pemimpinnya. Esensi raja adalah dilayani, disanjungi, dihormati dan dipenuhi segala hasratnya. Hal itu tidak berlaku pada kedudukan presiden sebagai pemimpin negara ini. Anda boleh presiden, namun anda wajib melayani, memenuhi serta memuaskan segala hasrat rakyat yang anda pimpin. Jika anda main-main maka bersiaplah untuk dihukum rakyat dengan tidak mempercayaimu lagi untuk menakhodai negara ini. Hal itu sudah menjadi keniscayaan bagi negara demokrasi di belahan dunia manapun, kekuasaan berada ditangan rakyat. Kekuasaan dalam arti memberikan, menerima dan mengharapkan segala sesuatu pada pemimpinnya. Pemimpin hanya bertugas untuk mempertanggungjawabkan harapan rakyat, bukan menguasai segala aspek kehidupan rakyat.
Dengan demikian siapapun pemimpinnya otomatis berusaha sekuat tenaga menggadaikan rupiah demi rupiah agar terlihat sakti dimata rakyat. Jika tak sakti maka bersiaplah untuk disangsikan rakyat. Dengan kekuatan rupiah maupun segala kekuatan yg dimiliki, pemimpin manapun selalu ingin dianggap berpihak pada rakyatnya. Tak jarang ia menghalalkan segala cara untuk menarik atensi publik, bahkan dengan cara yg memalukan sekaligus memilukan sekalipun dilakukannya demi umpannya menerkam hati rakyat.
Hidup di zaman modernisasi era Revolusi 4.0 tentu memudahkan apapun yg kita inginkan. Konsep kepemimpinan yang selama ini dibedah maupun diulik sehalus mungkin di kerangka berpikir kalangan mahasiswa kian tak ada artinya jika menandingi para elit yang hidup dalam nuansa kapitalistik. Kulitas seakan tidak lagi menjadi jaminan untuk menjadi pemimpin negeri ini. Anda boleh berkualitas namun jika tak akrab dengan media maka bersiaplah untuk diasingkan kualitasmu. Anda boleh menguasai setiap sendi-sendi manajerial kepemimpinan namun jika anda tak berkantong tebal maka cukuplah menjadi pemimpin rumah tanggamu saja. Jika ada cita dan asa untuk menjadi pemimpin negara, baik itu eksekutif maupun legislatif wajib bagimu untuk menggelontorkan dana bombastis. Baik untuk sekedar memajangkan wajahmu di media maupun untuk sekedar melemparkannya di setiap tepi jalan yang dikunjungi. Pola tradisi seperti ini bermuara pada praktek-praktek pragmatisme. Kalkulasi untung rugi dalam hal rupiah yang lebih dikedepankan ketimbang untung rugi dalam hal penanaman nilai edukatif maupun konstuktif dari seorang pemimpin kepada rakyatnya.
Kita tidak ingin hidup dengan sejuta kebohongan, kita pun tidak ingin bergumul dengan orang-orang yang belajar memperjuangan hak rakyat secara tekstual namun miskin gerakan restorasi. Siapapun pemimpinnya saya tidak ingin mendahului takdir dan menghakimi narasi-narasi yang selama ini digencarkan. Harapan itu masih ada jika pengharapan itu tidak dikriminalisasi. Semua yang dilakukan akan bernilai manakala yang diperjuangan adalah bentuk pengabdian. Bukan bagian dari serpihan keberpihakan tingkat tinggi yang mengandung sejuta dogma.
AMP Syafaat
Mantap min.
BalasHapus